Syarat Iran Buka Selat Hormuz: Cabut Blokade dan Sanksi
By Admin

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi/ X
nusakini.com, Iran mengajukan proposal tujuh hari untuk mengakhiri konflik bersenjata dengan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama tujuh bulan. Rancangan kesepakatan tersebut kini sedang menunggu jawaban resmi dari pihak Washington.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi inisiatif ini di luar markas Dewan Keamanan PBB pada Jumat (25/9/2026). Ia menyebutkan draf perdamaian itu telah dititipkan melalui Qatar sebagai pihak perantara.
"Keputusan mengenai proposal tersebut kini berada di tangan Amerika Serikat," ujar Araghchi dalam keterangannya kepada media. Ia juga menegaskan negaranya menolak segala bentuk tekanan maupun ancaman yang mencederai kedaulatan.
Berdasarkan informasi yang beredar pada Sabtu (26/9/2026), pelaksanaan peta jalan ini akan dimulai segera setelah AS menyetujuinya. Tahap pendahuluan dijadwalkan memakan waktu sekitar empat hingga lima hari.
Selanjutnya, Selat Hormuz direncanakan kembali beroperasi normal pada hari keenam. Pada hari ketujuh, kedua negara dijadwalkan duduk bersama untuk membahas isu strategis termasuk program nuklir.
Sebagai imbalan, Teheran menuntut pencabutan sanksi ekspor minyak dan pembebasan aset mereka yang selama ini ditahan. Amerika Serikat juga diminta membuka blokade maritim di wilayah pelabuhan Iran.
Selain itu, Iran mendesak penghentian total konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya di Lebanon dan Yaman. Sebagai gantinya, jalur perdagangan yang melayani seperlima pasokan energi dunia di Hormuz akan dibuka.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan keberhasilan inisiatif perdamaian ini sangat bergantung pada putusan Washington. Targetnya, kesepakatan ini bisa terealisasi sebelum pemilihan umum paruh waktu di AS pada bulan November mendatang. (*)